Selamat Datang di Laman Yudi Handayana

Belajar bersama Yudi Handayana

Make one step and never Back

Berjalan pelan asal tetap ke depan

Rabu, 31 Oktober 2018

Pertanda dari Langit

Zaman saat teknlogi modern belum terpikirkan, manusia hidup sangat erat dengan alam. Alam adalah sahabat sekaligus tempat tinggal mereka. Catatan kejadian alam bagi mereka terpatri di langit. Fenomena langit bagi sebagian masyarakat zaman itu adalah suatu pesan dari akan terjadinya suatu peristiwa.



Langit adalah fenomena keteraturan alam yang menempatkan dirinya secara periodik dalam waktu tertentu. Posisi bintang, rasi, dan bahkan cuaca memberikan pengaruh pada pola kehidupan masyarakat. Dan, ketika keteraturan langit tiba-tiba diganggu dengan kemunculan benda baru seperti komet di langit, mereka menafsirkannya secara pribadi.

Dapatkah kita menyalahkan mereka?

Dahulu, tak ada penjelasan yang logis atas kejadian itu. Ini jauh sebelum ada yang membayangkan bahwa Bumi adalah planet berputar dengan poros miring yang mengelilingi Matahari. Setiap budaya manusia kuno membuat kesalahan yang sama, komet pastilah suatu pesan yang dikirimkan dewa-dewi...atau satu tuhan tertentu. Dan hampir tanpa pengecualian, nenek moyang kita selalu menyimpulkan bahwa beritanya pasti buruk.  Komet adalah tanda malapetaka.  Satu-satunya perbedaan di antara mereka adalah jenis bencana yang akan datang.



Komet bisa berarti kelaparan.
Komet bisa berarti perang.
 Kedatangan komet itu berarti penyakit.
komet meramalkan kematian seorang pemimpin.


Namun, bangsa Cina kuno lah yang sangat sistematis. Mulai sekitar tahun 1400 SM, mereka mulai mencatat dan mengelompokkan kemunculan komet. Komet berekor tiga, berarti bencana bagi negara. Komet berekor empat, menandakan akan datang wabah epidemik.

Bakat manusia dalam pengenalan pola bagaikan pedang bermata dua. Kita 'sangat-sangat' baik dalam menemukan pola, bahkan ketika pola itu sebenarnya tidak ada sesuatu yang dikenal sebagai "pengenalan pola palsu." Kita lapar dalam mencari makna bahwa keberadaan pribadi kita pastilah bermakna spesial bagi alam semesta.

Karena hal itu, kita terkadang terlalu bersemangat untuk menipu diri kita sendiri dan orang lain, menemukan peringatan ilahi pada komet.

Pertanyaannya, dimanakah asal komet? Nantikan pada tulisan selanjutnya.

Senin, 29 Oktober 2018

Memahami Pola Langit

Kita hidup di alam semesta yang maha luas, bagai setitik debu di lautan luas. Bergantung pada sumber energi utama kita, Matahari, dan secara teratur mengikuti arah geraknya. Dalam keluasan alam semesta, kita semua dilahirkan ke dalam sebuah misteri, yang telah menghantui kita setidaknya selama kita telah menjadi manusia. Kita terbangun di dunia kecil ini dibawah taburan bintang. Seperti bayi yang ditinggalkan di depan pintu tanpa pesan untuk menjelaskan dari mana kita berasal, siapa kita, bagaimana jagat raya kita terbentuk. Dan tanpa tahu bagaimana cara mengakhiri keterpencilan kita di jagat raya. Kita harus mencari tahu semuanya sendiri.



Hal terbaik yang kita miliki adalah kecerdasan kita, khususnya bakat kita untuk mengenali pola, dipertajam selama ribuan tahun evolusi. Mereka yang pandai melihat mangsa dan predator, membedakan mana tumbuhan beracun dan mana yang bernutrisi, memiliki peluang lebih baik untuk bertahan dan bereproduksi. Mereka selamat dan mewariskan gen-gen itu untuk mengetahui pola dengan keunggulan yang nyata (Baca : Seleksi Alami (bagian 1)

Budaya-budaya di planet ini melihat ke atas bintang yang sama dan menemukan gambar yang berbeda disana. Kita menggunakan bakat ini untuk mengenali pola di alam, untuk membaca kalender di langit. Pesan tersebut yang tertulis di bintang memberitahu nenek moyang kita kapan harus menetap dan kapan harus berpindah. Kapan kawanan hewan bermigrasi serta hujan dan udara dingin akan datang. Dan kapan mereka seharusnya berhenti untuk sementara.

Saat mereka mengamati hubungan langsung antara gerakan bintang dan siklus iklim kehidupan di Bumi, mereka menyimpulkan, secara alami bahwa apa yang terjadi di atas sana pastilah ditujukan untuk kita di bawah sini. Segala tanda yang ada di langit akan terjadi di Bumi, satu-satunya tempat hidup manusia.

Pengenalan pola ini membawa tingkat berpikir manusia pada setiap zaman ke arah yang lebih tinggi. Pada zaman dulu, segala pengenalan pola langit mengarah pada kemampuan membuat prediksi berbau ramalan yang terkadang lebih ke mistis. Sekarang, cara berpikir manusia telah berbeda. 

Rabu, 19 September 2018

Wujud Kehidupan Lain


Titan adalah satu-satunya dunia lain di tata surya yang memiliki hujan. Ia memiliki sungai dan garis pantai. Titan memiliki ratusan danau. Uap yang naik dari danau memadat dan jatuh kembali sebagai hujan. Titan memiliki lanskap yang mirip dengan bumi. Hanya saja, struktur kimianya jauhn berbeda. Cairannya tersusun atas etana, daratannya tersusun dari air yang membeku, mirip seperti antartika. Udaranya tersusun atas nitrogen tanpa oksigen.



Kemiripan lanskap titan dengan bumi membuat kita berandai-andai. Mungkinkah ada kehidupan di titan? Kehidupan seperti apa yang mampu bertahan dalam keadaan seperti itu? Tentu kehidupan yang jauh berbeda dari kehidupan di bumi, yang mahluk hidupnya bernafas dengan oksigen, minum air, dan tubuh yang tersusun dari karbon.

Dasar kimia untuk kehidupan di titan akan sepenuhnya berbeda dari apa pun yang kita ketahui. Semua kehidupan di Bumi bergantung pada air yang cair. Dan permukaan Titan tidak memiliki semua itu. Tapi kita bisa membayangkan jenis kehidupan lainnya.

Mungkin ada makhluk yang menghirup hydrogen bukannya oksigen. Dan melepaskan metana, bukannya karbondioksida.  Mereka mungkin menggunakan asetilena sebagai sumber tenaga, bukannya gula. Siapa tahu jika makhluk semacam itu memerintah kerajaan tersembunyi dibawah ombak minyak metana yang gelap. Suatu laut luas yang dinamai Laut Kraken,  dinamakan berdasar nama monster laut mitologi Nordik.

Kalaupun ada monster kraken dibawah sana kita mungkin tak bisa melihatnya. Terlalu gelap, untuk mata mahluk bumi, yang didesain melihat sesuatu berdasarkan cahaya.  Laut kraken sangat gelap untuk ukuran manusia. Hal ini karena “airnya” tersusun dari metana dan etana. Zat-zat tersebut di bumi berwujud gas, ditambang sebagai bahan bakar. Namun, cadangan metana di titan sangat melimpah. Jika kita mengambil seluruh minyak dan gas alam di Bumi itu hanya sebagian kecil dari yang ada di Titan.

Di dalam kegelapan lautan metana tersebut, siapa tau… Terdapat kehidupan yang tidak memerlukan cahaya untuk “melihat”, dengan standar panas dan dingin yang berbeda dengan kita, dan memiliki bentuk kehidupan yang jauh berbeda dari bumi…

Senin, 17 September 2018

Lanskap Dunia Bentuk Kehidupan Lain

Kita sering mengira bahwa hidup itu banyak maunya, bahwa hidup hanya bertahan ketika tak terlalu panas, tak terlalu dingin, tak terlalu gelap, atau asin, atau asam atau radioaktif. Dan jangan lupa tambahkan air, sebagai senyawa yang paling penting bagi kehidupan bumi, serta oksigen, yang tanpanya manusia tidak bisa bernafas.

Namun, kita salah. Banyak mahluk yang bernafas tidak dengan oksigen, seberti bakteri anaerob. Yang bagi manusia bisa saja berarti kematian tanpa oksigen.  

Perbedaan antara lingkungan kita dan kehidupan yang ditemukan bahkan pada lingkungan paling ekstrim di planet kita, sebenarnya hanyalah variasi dari satu tema, seperti hanyalah dialek dari satu bahasa. Lingkungan bumi adalah lingkungan yang paling sesuai dengan kode genetik dari kehidupan Bumi.

Tapi bagaimana bentuk kehidupan pada dunia lain? Berbagai dunia dengan sejarah yang amat sangat berbeda secara kimiawi dan evolusi dari planet kita?

Ada dunia yang begitu jauh, dunia yang berbeda jauh dari dunia kita, tapi memungkinkan untuk mendukung kehidupan. Dan jika itu mungkin, kehidupannya tidak seperti apapun yang pernah kita lihat sebelumnya. Dunia itu bernama Titan.



Awan dan kabut benar-benar menyembunyikan permukaan Titan, bulan raksasa dari Saturnus. Seperti Bumi, ia memiliki atmosfir yang didominasi nitrogen. Tapi empat kali lebih padat. Udara Titan tidak ada oksigen sama sekali.  Dan jauh lebih dingin dari tempat apapun di Bumi.

Tersembunyi di bawahnya pemandangan yang ganjil. Titan adalah satu-satunya dunia lain di tata surya yang memiliki hujan. Ia memiliki sungai dan garis pantai. Titan memiliki ratusan danau. Uap yang naik dari danau memadat dan jatuh kembali sebagai hujan.



Hujan tersebut mengaliri sungai, yang mengukir lembah ke dalam lanskap seperti di Bumi. Tapi dengan satu perbedaan besar. Di Titan, laut dan sungai bukanlah dari air, tapi dari metana dan etana. Di Bumi, molekul-molekul itu berbentuk gas alam. Di Titan yang dingin, mereka berbentuk cair.

Titan memiliki banyak air, tapi semuanya membeku seperti batu. Itu membuat lanskap dan pegunungannya terbuat dari es air. Pada ratusan derajat di bawah nol, Titan terlalu dingin bagi air untuk mencair. 



Banyak pakar astrobiology telah bertanya-tanya, mungkinkah ada kehidupan di dalam danau hidrokarbon Titan? Sebuah dunia dengan lanskap yang mirip dengan bumi, namun susunan kimia yang berbeda.

Sabtu, 15 September 2018

Seleksi Alami (bagian 2- END)

Pada dunia es yang sepanjang mata memandang terhampar warna putih menyilaukan. Beruang telah mengalami perubahan gen kepada salah satu anaknya. Ketika anaknya sudah cukup dewasa untuk menjelajah keluar sendiri, beruang mana yang lebih mungkin untuk bisa menyelinap tanpa mencurigakan bagi mangsanya?

Beruang coklat bisa terlihat jelas di salju bermil-mil jauhnya. Beruang putih tumbuh subur dan meneruskan rangkaian khusus dari gennya itu. Ini terjadi berulang kali. Dari generasi ke generasi gen beruang putih menyebar ke seluruh populasi dari beruang Arktik.



Gen bulu gelap kalah dalam kompetisi bertahan hidup. Mutasi benar-benar acak dan terjadi setiap waktu. Tapi lingkungan menghadiahi mereka dengan meningkatkan peluang untuk bertahan hidup. Ia secara alami menseleksi makhluk hidup yang paling cocok untuk bertahan hidup. Dan seleksi tersebut adalah kebalikannya dari acak. Dua populasi beruang telah terpisah, dan selama ribuan tahun, merubah karakteristik yang memisahkan mereka.

Mereka menjadi spesies yang berbeda. Itulah yang dimaksud  Charles Darwin dengan "Asal Mula Spesies." Seekor beruang saja tidak berevolusi, populasi beruang lah yang berevolusi dari generasi ke generasi.

Jika es Arktik terus mencair, karena pemanasan global, beruang kutub bisa punah. Mereka akan digantikan oleh beruang coklat yang beradaptasi lebih baik pada lingkungan yang telah mencair itu.

Ini kisah yang berbeda dengan cerita evolusi serigala. Tak ada manusia yang memandu perubahan ini. Sebaliknya, lingkungan itu sendiri yang memilih mereka. Ini adalah evolusi dengan seleksi alam. Suatu konsep paling revolusioner pada sejarah ilmu pengetahuan

Kamis, 13 September 2018

Seleksi Alami (bagian 1)

Mungkin kita semua terkejut dengan tulisan proses evolusi pada serigala, yang mana peran manusia sangat berperan disana. Sekarang, mari kita akan coba melihat proses evolusi  lain dengan kembali ke masa lalu, ketika dunia ini masih dipenuhi oleh es, selama dua juta tahun terakhir. Ini adalah masa istirahat yang panjang. Selama dua juta tahun itu iklimnya dingin dan kering. Area es Kutub Utara lebih luas ke arah selatan dibanding yang ada sekarang.





Dalam salah satu zaman es yang panjang itu, ketika laut es membentang dari Kutub Utara hingga ke bawah, beruang besar berkeliaran di lempengan es dekat ke utara. Kelihatannya seperti beruang biasa, tapi sesuatu yang luar biasa terjadi di dalamnya.

Sesuatu yang akan memunculkan spesies baru. Untuk melihatnya, kita harus singgah ke skala yang kecil ke tingkat sel, sehingga kita dapat menjelajahi sistem reproduksi beruang. Kita harus mengecil lagi. Kita akan menyusut ke tingkat molekul, hingga di dalam nucleus yang berisi DNA kita, naskah kuno dari kode genetik kita.

Dan itu ditulis dalam bahasa yang dapat dibaca oleh kehidupan. DNA adalah molekul berbentuk seperti tangga memutar yang panjang atau spiral ganda. Anak tangganya terbuat dari empat jenis molekul berbeda yang lebih kecil. Ini adalah huruf alphabet dari genetik.
Pengaturan tertentu dari huruf tersebut menjadi petunjuk bagi seluruh makhluk hidup, memberi tahu mereka bagaimana untuk tumbuh, bergerak dan mencerna merasakan lingkungan, menyembuhkan, bereproduksi. Spiral ganda DNA adalah mesin molekul dengan 100 miliar bagian yang disebut "atom".



Pesan DNA diturunkan dari sel ke sel dan dari generasi ke generasi disalin dengan sangat hati-hati. Begitulah pesan kehidupan diprasastikan dan mengirimkan mereka dari satu generasi ke generasi berikutnya. Ketika sel hidup dibagi menjadi dua, masing-masing membawa salinan lengkap dari DNA tersebut.

Tapi tak ada yang sempurna. Kadang-kadang, ada kesalahan dalam mengkoreksi, membuat perubahan kecil yang acak dalam instruksi penyalinan genetik. Mutasi pun terjadi pada sel telur beruang. Sebuah peristiwa acak sekecil ini memiliki konsekuensi pada skala yang lebih besar. Mutasi itu mengubah gen yang mengendalikan warna bulu. Itu akan mempengaruhi produksi pigmen gelap pada bulu anak keturunan beruang.

Kebanyakan mutasi tidak berbahaya. Sebagian lainnya mematikan. Tapi beberapa, murni secara kebetulan bisa memberi organisme sebuah keuntungan penting pada persaingan. Pada proses ini, maka beruang melahirkan anak yang salah satunya memiliki pigmen berwarna putih sebagai akibat perubahan genetik.


Suatu tingkat sejarah kehidupan beruang berubah mulai saat ini. Bagaimana? Nantikan pada tulisan selanjutnya.



Senin, 10 September 2018

Seleksi Buatan

Teori evolusi serigala menjadi anjing merupakan teori yang begitu logis untuk dipahami.  Semua itu terjadi dimulai dari persekutuan karena nyaman menjadi persahabatan yang semakin dalam seiring berjalannya waktu.

Untuk mengetahui apa yang terjadi selanjutnya, mari kita tinggalkan nenek moyang kita dari sekitar 20.000 tahun yang lalu untuk menuju masa lalu yang lebih dekat, selama masa jeda di zaman es.



Masa jeda iklim ini memulai suatu perubahan. Alih-alih mengembara, orang-orang malah menetap. Ada yang baru di dunia.. yaitu desa. Orang-orang masih berburu dan mengumpulkan makanan, tapi sekarang mereka juga menghasilkan makanan dan pakaian.

Serigala telah menukar kebebasan mereka dalam pertukaran demi makanan yang tetap. Mereka melepaskan hak mereka untuk memilih pasangan. Sekarang manusia lah yang memilih untuk mereka. Mereka terus-menerus membunuh anjing-anjing yang sulit dilatih, yang menggigit tangan ketika diberi makan. Dan mereka membiakkan anjing yang menyenangkan mereka.

Mereka memelihara anjing yang melakukan perintah mereka. Bberburu, menggembala mengawal, mengangkut, dan menjaga perkumpulan mereka. Dari setiap peranakan, manusia memilih anak anjing yang dianggap bagus.

Lintas generasi, anjing-anjing berevolusi. Jenis evolusi ini disebut "seleksi buatan" atau "pemuliaan". Merubah serigala menjadi anjing adalah pertama kalinya kita, manusia turut campur dalam evolusi dengan tangan kita sendiri. Dan kita sudah melakukannya sejak saat itu untuk membentuk tanaman  dan hewan yang kita perlukan.



Dalam sekejap waktu kosmis,  sekitar 15.000 atau 20.000 tahun, kita merubah serigala abu-abu menjadi berbagai jenis anjing yang kita cintai saat ini. Bayangkan, setiap jenis anjing yang pernah kamu lihat dibentuk oleh tangan manusia.  Banyak dari teman terbaik kita itu-- peranakan yang populer-- dibentuk hanya dalam beberapa abad terakhir.

Kekuatan menakjubkan dari evolusi, mengubah serigala rakus menjadi penggembala yang setia... yang melindungi ternak dan mengusir serigala.

Seleksi buatan merubah serigala menjadi gembala dan rumput liar menjadi gandum dan jagung. Bahkan, hampir setiap tanaman dan hewan yang kita makan hari ini adalah peranakan dari yang liar, nenek moyangnya kurang bisa kita makan.

Jika seleksi buatan dapat merubah cukup banyak hanya dalam 10.000 atau 15.000 tahun, apa yang dapat dilakukan seleksi alam selama miliaran tahun? Jawabannya adalah keindahan dan keanekaragaman kehidupan.

Bagaimana cara kerjanya? Nantikan pada tulisan selanjutnya.

Sabtu, 08 September 2018

Planet Pengembara

Berapa planet yang kita kenal? Merkurius, venus, bumi, mars, Jupiter, saturnus, Uranus, dan Neptunus. Hanya itu?

Itu hanya planet dari matahari. Di luar sana, ada banyak matahari yang mungkin memiliki planet-planetnya sendiri.  Kita baru bisa mendeteksi planet-planet dari bintang lain dalam beberapa dekade terakhir, tapi kita telah mengetahui  bahwa planet itu berjumlah banyak melebihi jumlah bintang. Hampir semuanya sangat berbeda dari Bumi, dan berbahaya bagi kehidupan  yang kita kenal.

Tapi apa yang kita ketahui tentang kehidupan? 

Kita baru bertemu satu jenis kehidupan saja sejauh ini;  Kehidupan Bumi. Mata manusia hanya melihat satu berkas cahaya yang bersinar di jagat raya. Kehidupan yang kita kenal bergantung pada cahaya itu. Tumbuhan berfotosintesis, rantai makanan, kehidupan dan kematian. Semua tergantung pada sumber energi utama dari bumi, Matahari.

Mari melihat lebih dalam dengan membuka pikiran. Sains memberi kita kemampuan untuk melihat apa yang indera kita tak mampu. Inframerah adalah jenis cahaya yang terlihat dengan bantuan kacamata penglihatan malam.

Lepaskan sensor inframerah pada kegelapan... kita akan menemukan sebuah benda langit yang melintasi samudera semesta. Tanpa tuan, tanpa bintang induk.  Planet pengembara. Dunia tanpa matahari.


Galaksi kita punya miliaran planet ini, mengambang dalam kegelapan abadi. Mereka yatim piatu, terbuang dari bintang induknya selama kekacauan dari kelahiran sistem bintang asalnya. Tidak pernah ada cahaya yang konsisten menyinari planet ini. Tidak ada gravitasi besar selain dirinya sendiri yang mempengaruhi sistem di dalamnya.

Sains memberikan kita pengetahuan bahwa planet pengembara memiliki inti yang cair tapi membeku pada permukaannya. Misterinya ada disana, di intinya yang cair. Mungkin ada samudera dari air yang cair diantara zona ekstrim tersebut.  Dan, siapa tahu mungkin ada yang berenang di sana? Suatu jenis kehidupan yang sangat berbeda dengan bumi. Kehidupan yang tidak butuh cahaya untuk eksis. Kehidupan dengan sistemnya sendiri, tanpa fotosintesis,  berbalut tatanan sosial yang berbeda, bisa jadi kedamaian adalah hal mutlak disana, atau bahkan kekacauan adalah kebiasaan mereka.

Kita adalah salah satu cara bagi semesta untuk mengenal dirinya sendiri.

Senin, 27 Agustus 2018

Kepunahan Ke-6?

Kiamat, adalah kata yang paling menarik bagi kehidupan manusia saat ini. Dalam berbagai budaya dan kepercayaan, kiamat merupakan salah satu media "promosi" yang sangat laris. Saking larisnya, sebagian manusia sampai paranoid akan kemungkinan terjadinya kiamat. Bahkan, muncul ramalan-ramalan tentang terjadinya kiamat.


Kiamat adalah suatu hal yang mungkin terjadi. Hanya saja, bentuk dan kapan terjadinya masih menjadi misteri. Secara lokal, bencana yang terjadi di beberapa bagian muka bumi mungkin adalah sebuah kiamat bagi saudara kita yang terkena bencana. Baik itu gempa bumi, banjir, angin topan, cuaca ekstrim, tsunami, dan lainnya.

Bentuk-bentuk kiamat yang muncul dan divisualisasi dalam beberapa film sebagian besar merujuk pada faktor eksternal yang menghancurkan kehidupan seperti gelombang tsunami besar atau tabrakan asteroid. Namun, mari perhatikan kembali penyebab kepunahan 5 periode sebelumnya. Hanya satu periode yang diakibatkan oleh adanya asteroid yang menabrak bumi. Sisanya diakibatkan oleh iklim bumi yang berubah sebagai efek hilangnya keseimbangan unsur-unsur penunjang kehidupan di bumi.

Sekarang, mari kita perhatikan. Sejak revolusi industri dan penggunaan bahan bakar fosil, manusia telah membakar karbon dalam 3 abad terakhir lebih banyak dari apa yang pernah bumi alami selamat jutaan tahun sebelumnya. Kadar karbondioksida yang ada di bumi telah mencapai level yang tidak dapat diperkirakan secara logika. Efek kadar karbondioksida ini bahkan telah terasa sebagai pemanasan global.

Jika hal ini terus berlanjut, hingga sampai level yang tidak memungkinkan dibenahi, maka bukan tidak mungkin bumi akan "memutuskan" untuk kembali melakukan pemusnahan massal untuk kembali seimbang dalam jutaan tahun mendatang. Dan jika itu terjadi, maka spesies yang akan dihilangkan bisa jadi adalah manusia.

Oleh karena itu, peluang besar kepunahan ke-6 tiada lain diakibatkan oleh manusia itu sendiri. Semua sudah nyata di depan mata, kecuali manusia mau berubah dan kembali merawat bumi, satu-satunya rumah kita di alam semesta ini. Andai tidak ada hal-hal lain yang tiba-tiba seperti gunung besar meletus atau tabrakan asteroid, kita harus yakin bahwa terjadinya kepunahan ke-6 memiliki peluang kecil. Asalkan manusia mau merawat rumah kita. BUMI.

Jumat, 24 Agustus 2018

Extinction : Kepunahan Kelima

Bumi kita sudah sangat tua. Berdasarkan estimasi batu tertua, usia sekitar 4,5 miliar tahun. Para ilmuwan dari seluruh dunia menggunakan astronomi, geologi, kimia, biologi, arkeologi, dan ilmu lain untuk menyelidiki pembentukan Bumi serta munculnya dan punahnya kehidupan di Bumi. Bumi tidak asing dengan hilangnya bentuk kehidupan. Ada banyak periode kepunahan, sejak kapan organisme pertama muncul di Bumi hingga saat ini.


Periode kelima kepunahan terjadi sekitar 65 juta tahun yang lalu dan lebih dikenal sebagai kepunahan Cretaceous-Tersier. Itu adalah periode tercepat dari kepunahan massal, terjadi lebih dari satu hingga 2,5 juta tahun.

Ini mungkin adalah periode kepunahan massal yang paling dikenal karena saat itulah dinosaurus musnah dari muka bumi. Para ilmuwan percaya meteor jatuh di Teluk Meksiko hari ini diperparah dengan aktivitas gunung berapi tinggi yang menghasilkan sejumlah besar karbon dioksida, menewaskan setengah dari populasi yang hidup di bumi.

Pada zaman ini, terdapat spesies yang kuat di lautan yaitu Amonite. Dengan panjang 15 cm, kemampuannya bertahan hingga saat ini masih menjadi misteri. Jahitan berdaun halus menghiasi ruang tubuhnya ini mewakili beberapa teknik canggih dalah bertahan hidup, menyediakan fortifikasi seperti Ammonite squid yang diperlukan untuk menahan tekanan penyelaman dalam mengejar mangsanya.

Dinosaurus mungkin telah menguasai tanah selama periode Cretaceous tetapi lautan milik Amon. Namun aktivitas gunung berapi dan perubahan iklim telah menempatkan Ammonite di bawah tekanan. Dampak asteroid yang mengakhiri pemerintahan dinosaurus memberikan pukulan terakhir. Hanya sedikit spesies amon yang bertahan hidup. Hari ini, kerabat tertua yang bertahan di Amon adalah nautilus.

Rabu, 22 Agustus 2018

Extinction : Kepunahan Keempat

Perkembangan kehidupan di Bumi berlangsung selamat milyaran tahun sejak terbentuknya planet ini. Kehidupan manusia telah dimulai jutaan tahun lalu. Namun belakangan ini, sejumlah ilmuwan berpendapat bahwa karena uji coba bom nuklir pada ledakan tahun 1950-an dan populasi manusia telah memasuki era baru, yang disebut Anthropocene. Mereka berpendapat bahwa dengan lebih dari tujuh miliar manusia, aktivitas manusia telah secara drastis mempengaruhi alam dan kepunahan sejumlah satwa liar. Bumi tidak asing dengan hilangnya bentuk kehidupan. Ada banyak periode kepunahan, sejak kapan organisme pertama muncul di Bumi hingga saat ini.



Periode keempat kepunahan terjadi sekitar 210 juta tahun yang lalu, selama Zaman Trias Akhir. Pembelahan Pangea yang lambat menyebabkan gunung berapi terbentuk di Provinsi Magmatik Atlantik Tengah. Setelah lonjakan karbon dioksida di atmosfer, pemanasan global dimulai lagi, dengan para ilmuwan berspekulasi itu berlangsung selama delapan juta tahun.

Hal ini menyebabkan karang dan konodon, makhluk laut purba yang seperti belut untuk menghadapi krisis yang serius. Makhluk berbasis karang tidak bertahan hidup. Hujan meteor juga mempercepat kehancuran pada periode ini, Sekitar 80% makhluk hidup, termasuk reptil mati, dengan sekitar 20% makhluk hidup yang punah akibat kehidupan di laut. Selain itu, sejumlah makhluk yang hidup di darat yang mati pada periode ini adalah pseudosuchia, crocodylomorphs, theropoda dan beberapa amfibi besar.

Paleontolog bingung tentang asal-usul fragmen gigi ini, mengira mereka sebagai potongan kerang atau spons. Namun penemuan fosil utuh di Skotlandia pada 1980-an akhirnya mengungkapkan pemiliknya - vertebrata mirip belut bernama konodont yang membanggakan set gigi luar biasa yang melapisi mulut dan tenggorokannya. Mereka adalah salah satu struktur pertama yang dibangun dari hydroxyapatite, mineral kaya kalsium yang tetap menjadi komponen kunci dari tulang dan gigi kita hari ini. Dari semua kepunahan besar, yang mengakhiri Trias adalah yang paling misterius. Tidak ada penyebab yang jelas telah ditemukan.

Minggu, 19 Agustus 2018

Extinction : Kepunahan Ketiga

Beberapa ilmuwan percaya sekitar 600 hingga 700 juta tahun setelah bumi terbentuk, hujan meteor menghujani bumi, membawa sejumlah besar air dan asam amino. Kehidupan, dalam bentuk bakteri sel tunggal, dimulai. Sejak itu, bakteri telah berevolusi menjadi bentuk yang lebih kompleks, meskipun makhluk yang berbeda juga telah punah. Ahli geologi membagi periode dari formasi Bumi hingga sekarang menjadi beberapa era berdasarkan perubahan yang terjadi di masing-masing periode.



Periode ketiga dari kepunahan, sekitar 251 juta tahun yang lalu, selama Permian Age, adalah yang terbesar dan terburuk yang pernah terjadi di Bumi. Pembentukan benua raksasa Pangaea menyebabkan perubahan besar dalam geologi, iklim, dan lingkungan. Letusan gunung berapi yang berlanjut selama 1 juta tahun melepaskan sekitar 300 juta kilometer persegi lava sementara lebih dari 1.750 meter sedimen terbentuk di Perangkap Siberia.

Letusan membakar hutan empat kali ukuran Korea. Ini menghasilkan volume besar karbon dioksida yang menyebabkan pemanasan global. Akibatnya, metana beku di bawah laut meleleh, menghasilkan efek pemanasan global 20 kali lebih kuat daripada karbon dioksida.

Pemanasan global berlangsung selama sekitar 10 juta tahun. Kepunahan massal yang mengerikan tidak bisa dihindarkan. Hanya 5% dari populasi kehidupan di Bumi yang selamat dan 95% meninggal karena kekeringan besar, kekurangan oksigen dan hujan asam yang membuat tanaman tidak dapat bertahan hidup.

Dikenal sebagai “the great die”, ini adalah peristiwa kepunahan terburuk yang pernah ada. Hampir mengakhiri hidup di Bumi. Tabulasi karang hilang pada periode ini . Perlu diketahui, karang saat ini adalah kelompok yang sepenuhnya berbeda.

Badai sempurna dari bencana alam. Letusan dahsyat dekat Siberia meledakkan CO2 ke atmosfer. Bakteri metanogenik merespon dengan menyuntikkan metana, gas rumah kaca yang kuat. Temperatur global melonjak ketika lautan diasamkan dan stagnasi, menyemburkan hidrogen sulfida yang beracun. "Ini mengatur kehidupan kembali 300 juta tahun,". Batuan setelah periode ini mencatat tidak ada terumbu karang atau endapan batu bara.

Sabtu, 18 Agustus 2018

Parker Solar Probe


Manusia memang tidak pernah merasa puas. Manusia selalu ingin mengenal lingkungannya lebih baik lagi. Lingkungan di dunia kita yang kecil, atau dalam skala lebih luas, lingkungan tata surya kita. 

Manusia sudah mengirim penjelajah ruang terjauh, membawa pesan kepada kehidupan (mungkin) nu jauh disana, diantara bintang. Menyampaikan keberadaan kita dan segala yang perlu diketahui tentang manusia bumi. Namun, tentu saja sumber kehidupan di bumi, matahari, masih menjadi misteri sampai saat ini.

Mengetahui lebih baik tentang matahari, akan membuat kita lebih memahami bagaimana hidup manusia akan berlangsung. Sejauh ini, penjelajahan manusia banyak ke daerah terjauh tata surya. Namun misi mendekatkan diri dengan matahari, pusat tata surya kita, baru saja dimulai. Sebuah misi untuk lebih intim dengan matahari, dalam jarak paling dekat dengan wahana apapun yang pernah dibuat oleh manusia. Sebuah misi yang penuh resiko kegagalan menghadapi kejamnya panas dan radiasi matahari.

Parker Solar Probe, adalah wahana yang dikirim oleh NASA baru-baru ini untuk lebih dekat ke matahari. Probe ini dirancang untuk menjadi wahan buatan manusia tercepat yang bergerak dalam sejarah. Probe ini dirancang untuk mengambil data-data yang digunakan untuk memecahkan misteri lama matahari. Untuk ini, diharapkan Probe bertahan di atas suhu 1000 derajat celcius. Suhu yang sangat ekstrim dan kejam. Hal ini karena probe akan masuk ke dalam sistem terdalam tata surya, dengan melewati venus dalam 6 minggu pertama, dan mencapai atmosfer matahari seminggu kemudian.

Selama tujuh tahun, Probe ini akan membuat 24 putaran di sekitar matahari untuk mempelajari bentuk korona, tempat banyak aktivitas penting yang mempengaruhi kehidupan bumi. Parker mengambil sampel secara langsung untuk memecahkan teka teki matahari dengan mengambil data medan partikel, magnetik, dan listrik korona. Probe akan masuk ke atmosfer matahari untuk mengambil sampel dalam jarak 6,16 juta kilometer dari permukaan matahari. 

Mugkin jarak itu terkesan masih jauh. Namun dalam skala tata surya, itu adalah jarak yang sangat dekat. Sebagai perbandingan, jarak matahari-bumi adalah 150 juta kilometer. Jika dibuatkan skala, andaikan jarak bumi-matahari adalah 1 meter, maka jarak probe-matahari hanyalah 4 cm. Perbandingan yang begitu mencolok. Coba kita berada d siang hari yang terik di permukaan bumi. Itu adalah panas yang kita rasakan sejauh 150 juta kilometer dari matahari. Jadi, bayangkan jika jaraknya hanya 6,16 juta kilometer.




Probe dirancang menjadi wahana tercepat mengelilingi matahari dengan kecepatan 690.000 km/jam.  Itu adalah kecepatan yang mampu menempuh setengah keliling bumi kurang dari satu menit. Probe ini dilapisi dengan sunshield komposit karbon setebal 11,5 cm. 

Sebenarnya misi ini telah diwacanakan sejak 60 tahun lalu. Namun, baru sekarang terealisasi karena teknologi yang diperlukan untuk mengarungi daerah kejam itu baru kita miliki saat ini. Saat dekat dengan matahari parker rawan mengalami gangguan radio yang dapat membuatnya kehilangan kontak dengan bumi.

Pada tahap ini, sekali lagi kebesaran pemikiran manusia membawanya lebih dekat dengan alam ini, bahkan melampauinya. Memahami lebih dalam ciptaanNYA, untuk mengenal untuk apa kehidupan ini tercipta. 

Jumat, 17 Agustus 2018

Extinction : Kepunahan Kedua

Sekitar 13,8 miliar tahun yang lalu, sebuah ledakan besar yang oleh para ilmuwan disebut Big Bang memacu pembentukan planet kita. Ledakan itu menghasilkan massa debu hidrogen yang semakin padat, seperti awan; yang terbesar berubah menjadi matahari kita, sementara yang lebih kecil menjadi planet. Salah satu planet itu adalah Bumi kita.

Beberapa ilmuwan percaya sekitar 600 hingga 700 juta tahun kemudian, hujan meteor menghujani bumi, membawa sejumlah besar air dan asam amino. Kehidupan, dalam bentuk bakteri sel tunggal, dimulai.

Namun, tidak selamanya proses perkembangan kehidupan berjalan dengan baik. Ada kalanya bumi mengalami kekejaman yang mampu melenyapkan spesies secara massif. Kepunahan massal yang tercatat sebanyak 5 kali.



Periode kedua dari kepunahan, pada masa Devon Age, terjadi sekitar 359 juta tahun yang lalu. Hujan meteor yang tak kenal lelah diyakini menjadi salah satu penyebab kepunahan massal. Penyebab lain termasuk penurunan drastis kadar oksigen secara global, peningkatan aktivitas lempeng tektonik, dan perubahan iklim. Perubahan ini menyebabkan sekitar 75% makhluk hidup mati. Kepunahan pada periode ini berdampak pada kehidupan di laut yang, pada saat itu, didominasi oleh karang dan stromatoporoids.

Trilobit adalah hewan yang paling beragam dan melimpah yang muncul dalam ledakan Kambria 550 juta tahun yang lalu. Keberhasilan besar mereka dibantu oleh baju besi runcing mereka dan mata yang beraneka ragam. Mereka selamat dari kepunahan besar pertama tetapi hampir musnah pada yang kedua.

Pelaku yang mungkin menyebabkan kepunahan adalah tanaman darat yang baru berevolusi yang muncul, menutupi planet selama periode Devon. Akarnya yang dalam mendorong bumi, melepaskan nutrisi ke lautan. Ini mungkin telah memicu mekarnya alga yang menghisap oksigen keluar dari air, mencekik penghuni bawah seperti trilobit.

Kamis, 16 Agustus 2018

Skala Richter


Sering kita mendengar jika terjadi gempa dengan skala 7.0 Skala Richter, dan seterusnya. Apakah Skala Richter tersebut? Apakah kekuatan gempa 8.0 SR merupakan kelipatan dua kali gempa 4.0 SR? Seberapa kuatkah gempa dengan Skala Richter tersebut?

Skala Richter atau SR didefinisikan sebagai logaritma (basis 10) dari amplitudo maksimum, yang diukur dalam satuan mikrometer, dari rekaman gempa oleh instrumen pengukur gempa (seismometer) pada jarak 100 km dari pusat gempanya. Skala ini diusulkan oleh fisikawan Charles Richter.

Kita tidak perlu tahu bagaimana hitungan skala ini. Yang perlu kita tahu banyak sebagai masyarakat umum adalah seberapa besar energi dan kerusakan yang ditimbulkan. Dalam perhitungannya, parameter yang harus diketahui adalah amplitudo maksimum yang terekam oleh seismometer (dalam milimeter) dan beda waktu tempuh antara gelombang-P dan gelombang-S (dalam detik) atau jarak antara seismometer dengan pusat gempa (dalam kilometer).

Skala Richter pada mulanya hanya dibuat untuk gempa-gempa yang terjadi di daerah Kalifornia Selatan saja. Namun dalam perkembangannya skala ini banyak diadopsi untuk gempa-gempa yang terjadi di tempat lainnya. Sebenarnya, Skala Richter ini hanya cocok dipakai untuk gempa-gempa dekat dengan magnitudo gempa di bawah 6,0. Di atas magnitudo itu, perhitungan dengan teknik Richter ini menjadi tidak representatif lagi. Namun, perbedaan yang ditimbulkan oleh pengukuran dengan gempa berkekuatan tinggi tidak  banyak. Oleh karena itu, SR masih digunakan dalam perhitungan gempa besar, walau tidak jarang akan dikoreksi berkali-kali oleh badan yang berwenang.
Perlu diingat bahwa perhitungan magnitudo gempa tidak hanya memakai teknik Richter seperti ini. Kadang-kadang terjadi kesalahpahaman dalam pemberitaan di media tentang magnitudo gempa ini karena metode yang dipakai kadang tidak disebutkan dalam pemberitaan di media, sehingga bisa jadi antara instansi yang satu dengan instansi yang lainnya mengeluarkan besar magnitudo yang tidak sama. Skala Richter merupakan skala pertama yang dikembangkan Richter untuk mengukur besaran gempa yang disebut Magnitudo Lokal (ML).

Kekuatan gempa dengan Skala Richter bukanlah linier. Skala ini menggunakan logaritma. Artinya, setiap naik 1 skala, maka itu berarti energinya kelipatan 10. Berarti, gempa skala 3 SR merupakan gempa yang 10 kali lebih kuat dari gempa skala 2 SR. Berarti pula, gempa skala 8 SR adalah gempa yang 100.000 kali lebih kuat dibanding gempa skala 3 SR.

Gempa dengan SR kurang dari 2.0 merupakan gempa kecil yang bahkan tidak terasa di sekitar pusat gempa di permukaan bumi. Gempa dengan SR 2.0 - 2.9 tidak terasa, namun terekam oleh alat. Gempa dengan SR 3.0 - 3.9 seringkali terasa, namun jarang menimbulkan kerusakan. Gempa dengan SR 4.0 - 4.9 dapat diketahui dari bergetarnya perabot dalam ruangan, suara gaduh bergetar. Kerusakan tidak terlalu signifikan. Gempa dengan SR 5.0 - 5.9 dapat menyebabkan kerusakan besar pada bangunan pada area yang kecil. Umumya kerusakan kecil pada bangunan yang didesain dengan baik.

Gempa dengan SR  6.0 - 6.9 dapat merusak area hingga jarak sekitar 160 km. Gempa dengan SR 7.0 - 7.9 dapat menyebabkan kerusakan serius dalam area lebih luas. Gempa dengan SR 8.0 - 8.9 dapat menyebabkan kerusakan serius hingga dalam area ratusan mil. Gempa dengan SR  9.0 - 9.9 dapat menghancurkan area ribuan mil. Gempa dengan SR 10.0 - 10.9 terasa dan dapat menghancurkan sebuah benua. Gempa SR 11.0-11.9 dapat terasa di separuh sisi bumi. Biasanya hanya terjadi akibat tumbukan meteorit raksasa. Biasanya disertai dengan gemuruh. Contohnya tumbukan meteorit di teluk Chesepeak. Gempa dengan SR 12.0-12.9 bisa terasa di seluruh dunia. Hanya terekam sekali, saat tumbukan meteorit di semenanjung Yucatan, 65 juta tahun yang lalu yang membentuk kawah Chicxulub. Untuk gempa yang lebih dari itu belum pernah terekam.

Nah, begitu besar energi dari gempa ini dan perbedaan energi antar skala ini menyebabkan pihak berwenang harus sangat teliti dan hati-hati dalam menyebarkan informasi terkait skala gempa. Ini berefek pada kemungkinan korban dan kerusakan yang ditimbulkan serta analisis terhadap akitivitas lempeng bumi. Oleh karena itu, tidak jarang pihak terkait selalu merevisi nilai Skala gempa.

Rabu, 15 Agustus 2018

Extinction : Kepunahan Pertama

Bumi kita sudah sangat tua. Berdasarkan estimasi batu tertua, usia sekitar 4,5 miliar tahun. Para ilmuwan dari seluruh dunia menggunakan astronomi, geologi, kimia, biologi, arkeologi, dan ilmu lain untuk menyelidiki pembentukan Bumi serta munculnya dan punahnya kehidupan di Bumi.

Kepunahan di bumi telah terjadi berkali-kali. Bahkan kepunahan suatu spesies ada di setiap waktu. Namun, menurut catatan fosil, hanya lima era telah secara drastis mengurangi populasi makhluk hidup di bumi untuk menjamin sebutan kepunahan massal.

Memasuki periode awal hingga pertengahan Era Ordovisium, Bumi masih hangat dengan tingkat kelembapan yang ideal untuk hidup. Namun, menjelang akhir periode - sekitar 443 juta tahun lalu - semuanya berubah secara tiba-tiba, ketika benua tua Gondwana mencapai Kutub Selatan. Suhu turun drastis dan es terbentuk di mana-mana, menurunkan level air.

Graptolites, seperti kebanyakan kehidupan Ordovisian, adalah makhluk laut dengan panjang 2-3 cm. Mereka adalah hewan pemakan filter dan pembangun koloni. Kematian mereka selama sekitar satu juta tahun mungkin disebabkan oleh es, usia es yang parah yang menurunkan permukaan laut, mungkin dipicu oleh peningkatan Appalachian. Batu silikat yang baru terpapar menghisap CO2 dari atmosfer, membuat planet menjadi dingin.

Selanjutnya, tingkat karbon dioksida di atmosfer dan di laut menurun, menyebabkan jumlah tanaman menurun secara dramatis dan kekacauan ekosistem terjadi karena tanaman tertentu, yang digunakan sebagai sumber makanan, menjadi langka.

Sekitar 86% populasi makhluk hidup menghilang dalam waktu tiga juta tahun. Beberapa organisme yang dipengaruhi oleh kepunahan pertama adalah Brachiopoda, Conodonts, Acritarchs, Bryozons, dan juga Trilobite yang hidup di lautan.

Selasa, 14 Agustus 2018

Misi Voyager (Bagian 2 - END) : Pesan Untuk Alam Semesta


Voyager 1 adalah wahana yang dikirim khusus untuk menuju ruang tak berhingga. Menuju dunia lain yang mungkin belum terlihat. Dikirim untuk misi yang mungkin tak pernah pulang. Tak ada benda lain yang tersentuh oleh tangan manusia yang pernah berkelana sejauh ini dari Bumi. Bahkan setelah mereka kehilangan kemampuannya untuk menanggapi perintah kita, fase terakhir dan yang terpanjang dari misi Voyager akan dimulai.



Pada tahun 1979, ketika Voyager mengitari Yupiter, gravitasi Yupiter yang besar bertindak layaknya katapel, melontarkan mereka keluar dari sistem tata surya untuk melakukan perjalanan antar bintang di dalam galaksi kita selama satu miliar tahun. Misi Voyager menawarkan dua tiket gratis untuk sesuatu yang mendekati keabadian.

Suatu pesan bagi setiap peradaban yang mungkin, suatu hari nanti, bertemu dengan kapal ruang angkasa yang terbengkalai ini. Mereka diukir pada sampul pesan yang dirancang untuk dibaca oleh makhluk dari dunia dan waktu lain.

Apa yang mungkin menjadi persamaan antara kita dengan peradaban alien dengan sejarah evolusi masing-masing yang terpisah dan jauh lebih maju dari peradaban kita hingga mereka bisa berpatroli dalam ruang antar bintang? Setidaknya satu, bahasa universal... yaitu Sains.



Sulit untuk melepaskan ikatan gravitasi. Kamu hanya bisa mengarungi lautan kosmis jika kamu berbahasa matematika dan fisika. Untuk dapat menyampaikan pesan pada mahluk di luar sana, perlu hal universal yang digunakan. Perhatikan gambar diatas. Itu adalah Cover Artefak yang dibawa oleh Voyager melintasi semesta yang merupakan piringan rekaman suara bumi.


 Hidrogen adalah unsur paling umum di alam semesta. Elektron pada atom hidrogenmembalik arah putarannya dengan laju yang konstan. Atom hidrogen itu seperti jam alamiah kecil. Sekarang kita memiliki unit waktu yang sama dengan makhluk luar angkasa. Ini akan berguna ketika kita sampai ke tahap selanjutnya dari pesan.



Ini adalah alamat balasan kita di ruang angkasa.  Pulsar adalah bintang neutron  yang berputar dengan cepat yang menyemburkan gelombang radio secara teratur.

Kamu bisa mengatur jam milikmu dengannya.. Matahari ada pada pusat diagram ini, dan garisnya menghubungkan ke 14 pulsar terdekat. Sebuah kode sederhana menandai setiap pulsar dengan frekuensinya yang unik menggunakan tiktok dari atom hydrogen sebagai unit satuan waktu.

Jadi ahli astronom alien bisa menggunakan diagram ini untuk menemukan bintang induk dari kapal ruang angkasa Voyager di galaksi kita.  Mereka juga dapat memberi tahu sudah seberapa lama Voyager itu diluncurkan. Dan itu penting  karena rekaman Voyager diproyeksikan untuk hidup selama 1 miliar tahun. Sisa pesan yang tergambar adalah pesan tentang cara untuk memutar piringan suara andaikan oleh suatu sebab terhenti atau bergeser.

Mari menjadi arkeolog makhluk luar angkasa untuk beberapa saat. Sebuah artefak telah diambil dari lautan antar bintang. Pesan itu dibuat oleh makhluk yang hidup sekitar satu miliar tahun yang lalu. Apa yang akan kau dapatkan dari mereka dan dunia mereka?




Mereka telah mengirimkan kita musik mereka berjudul Sound of Earth (andaikan bisa membaca tulisannya) dan ucapan salam dalam 58 bahasa manusia. Salam dari anak-anak planet Bumi. Dan bahasa ikan paus. Dan rekaman yang memperdengarkan suara peluncuran roket Saturn V. Kata-kata pertama seorang ibu pada bayinya yang baru lahir.  Suara gelombang otak wanita muda yang baru jatuh cinta. Dan suara dari pulsar. Semua itu akan hidup selama satu miliar tahun.

Entah siapa yang akan menerima? Apakah manusia masih ada saat pesan itu diterima? Bahkan saat pesan itu dibalas (suatu hari)? Yang jelas, manusia telah berusaha menunjukkan eksistensinya di alam semesta ini. Mencoba mencari tahu apakah manusia hidup sendiri, di lautan Semesta yang Maha Luas ini.

Senin, 13 Agustus 2018

Jenis-Jenis Gempa


Bumi tersusun atas lempeng-lempeng yang saling bergerak. Lempeng bumi terdiri atas lempeng benua maupun lempeng samudera. Pertemuan dua lempeng itu bagaikan sebuah lidi yang dibengkokkan. Lidi mula-mula melengkung sampai batas tertentu dan akhirnya patah. Saat tekanan suatu lempeng itu maksimal, maka seperti lidi yang patah, lempeng akan melepaskan energinya. Terjadilah gempa.




Gempa tidak hanya diakibatkan oleh tumbukan lempeng. Gempa bisa diakibatkan oleh berbagai macam fenomena. Fenomena gunung berapi salah satunya. Selama aktivitas gunung yang akan erupsi, akan terjadi gempa di sekitar gunung. Namun, gempa bumi ini tidak banyak merusak. Kerusakan diakibatkan oleh letusan gunung tersebut. Gempa jenis ini disebut gempa Vulkanik.

Gempa bumi yang paling banyak menimbulkan kerusakan adalah gempa yang diakibatkan oleh aktivitas lempeng bumi. Gempa ini disebut sebagai gempa tektonik. Gempa ini dapat melepaskan energi yang sangat besar. Besarnya energi yang dilepaskan diberikan skala dengan Skala Richter.

Gempa tektonik ini yang menghantui hampir di seluruh bagian bumi. Energi gempa yang merambat dari sumber terjadinya akan mampu menimbulkan kerusakan parah. Selain itu, gempa ini dapat memicu gelombang besar tsunami, yang tentu saja memperparah bencana yang terjadi.

Penyebab gempa lainnya yang sangat jarang terjadi  adalah gempa akibat tumbukan meteor atau asteroid. Namun, pada bumi purba, gempa jenis inilah yang paling sering terjadi. Setiap saat bumi selalu ditumbuk oleh meteor maupun asteroid. Bahkan, saat ini, satelit kita, bulan, terus mengalami tumbukan meteor sehingga gempa selalu terjadi.

Meskipun jarang terjadi, namun jika sekali terjadi, maka akan ada kepunahan di muka bumi ini. Tumbukan terakhir asteroid dengan bumi mampu menghapus era dinosaurus.

Dengan berbahayanya gempa yang tidak dapat terprediksi kapan akan terjadinya, maka selayaknya kita sebagai manusia harus banyak bersyukur dengan nafas yang masih diberikan.


Minggu, 12 Agustus 2018

Misi Voyager (Bagian 1) : Perjalanan yang Tak Pernah Kembali

Alam semesta begitu luas. Kita hanya setitik debu dari lautan semesta. Namun, kebesaran pikiran kita membawa manusia mampu melampaui semua itu. Seberapa jauh saat ini manusia mampu menjelajah semesta? Dari seluruh pesawat ruang angkasa kita, ini adalah yang telah bepergian paling jauh dari rumah, Voyager 1.



Dia membawa pesan kepada miliaran tahun dari sekarang, sesuatu tentang siapa diri kita, bagaimana kita merasa, dan musik yang kita buat. Perjalanan terpanjang sepanjang sejarah  diluncurkan pada tahun 1977. Voyager ini bergerak dengan kecepatan sekitar 64.000 km per jam.  Voyager sukses menyelesaikan misi penjelajahannya ke planet terluar, namun perjalanannya menuju kegelapan  baru saja dimulai.

40 tahun setelah peluncurannya, Voyager 1 menjadi pesawat ruang angkasa pertama kita yang memasuki dunia yang belum terpetakan. Lautan antar bintang begitu dalam dan gelap. Di tempat itu, Matahari hanyalah bintang tercerah di langit. Namun tetap saja Voyagers mempertahankan komunikasi rutin mereka dengan Laboratorium Propulsi Jet milik NASA. Berbicara bolak-balik melintasi jam cahaya yang memisahkan kapal ini dengan pangkalan awal mereka.



Voyager 1 adalah wahana yang dikirim khusus untuk menuju ruang tak berhingga. Menuju dunia lain yang mungkin belum terlihat. Dikirim untuk misi yang mungkin tak pernah pulang. Tak ada benda lain yang tersentuh oleh tangan manusia yang pernah berkelana sejauh ini dari Bumi. Bahkan setelah mereka kehilangan kemampuannya untuk menanggapi perintah kita, fase terakhir dan yang terpanjang dari misi Voyager akan dimulai.